Aku paling benci
dengan sms yang mengharuskan penerima meng-forward sms itu ke beberapa kontak.
Apa lagi diikuti dengan embel-embel
horror didalamnya. Pagi itu aku mendapatkan sms entah dari siapa, nomornya tak
terdaftar di kontakku.
From:
087734095xxx
05.20 a.m
Namaku
Ayu. Aku adalah gadis buruk rupa dan tidak ada seorangpun yang mau berteman
denganku. Aku sudah mati dengan luka penuh sayatan dan kali ini aku sedang
mecari teman untuk menemaniku bermain. Kirim sms ini ke 30 temanmu dalam waktu
5 menit, jika tidak kamu yang akan menemaniku. No Hoax.
Aku tersenyum geli membaca pesan ini. Menurutku orang
yang percaya dengan sms ini adalah orang yang tidak bisa berfikir secara logis,
tidak mau menggunakan otaknya untuk berfikir rasional. Aku tidak menggubris isi
sms itu apalagi meng-forwardnya. Aku meletakkan ponselku di meja begitu saja
begitu Mama memanggilku. “Firli, bangun!” teriak Mama dari balik pintu kamarku.
“Iya mah, udah bangun!” sahutku ikut
berteriak. Aku segera bangkit dari
gulungan selimut yang hangat itu, kemudian berjalan perlahan menuju kamar
mandi. Kebetulan kamar mandiku berada di dalam kamar. Jarak dari tempat tidur
ke kamar mandi harus melewati cermin rias besar. Terlihat dicermin seperti ada
bayangan putih ketika aku melintas. Aku mencoba mengucek-ngucek mataku yang
belum jelas karena baru saja bangun tidur. Mungkin bayanganku sendiri kali ya?
Entahlah, aku berusaha membuang fikiran negatif, dan lebih baik aku mandi
sekarang!
Setelah selesai mandi, entah kenapa suasana kamarku
menjadi begitu mencekam. Kamarku memang gelap, tapi tidak segelap yang aku
rasakan sekarang. Aku juga merasa ada yang aneh dengan kamarku, membuat
jantungku berdegup sangat cepat. Ketika aku memakai baju seragamku, seperti ada
sepasang mata yang seolah-olah mengawasiku. Ketika aku duduk di depan cermin,
aku melihat bayangan itu di cermin. Bayangan seorang wanita di sudut ruang
kamarku. Ketika aku menoleh ke belakang, bayangan itu menghilang. Nafasku
semakin memburu karena ketakutan. Aku ingin segera keluar dari kamarku, tapi
tubuh ini seolah-olah lumpuh. Aku membalikkan tubuhku ke depan cermin, dan
bayangan itu ada lagi. Ketika aku membalikkan tubuhku, wajah wanita yang
mengerikan tepat berada dihadapan wajahku, membuatku terlonjak kaget dan
terjatuh. Wanita dengan baju putihnya yng penuh bercak darah, matanya yang
putih tanpa pupil menatap tajam ke arahku, membuatku semakin tak kuasa menahan
getaran di tubuhku. “Siapa kamu?” tanyaku ketakutan. Wanita itu semakin
mendekatiku, aku berjalan mundur hingga menyentuh tembok. Seketika itu cermin
rias tiba-tiba pecah. Wanita itu mengambil serpihan kaca dan tangannya siap ia
ayunkan untuk menusukku. “Arrrgggghhhhhhh!!!!!” aku berteriak ketakutan. Tiba-tiba
pintu kamarku dibuka, Mama langsung memelukku. “Sayang kenapa?” tanya Mama tapi
aku tak memperdulikannya. Sosok itu masih disana! Masih mengincarku! Dia akan
membunuhku!
***
Sore itu Reno, Felice, Billy dan Feby sedang menikmati
kopi di sebuah cafe, tempat favorit dimana mereka berkumpul. Soundtrack
doraemon berbunyi disela-sela perbincangan mereka. “Ehh ada sms.. Bentar, Febby baca dulu. Sayang, ini
mama. Mama ada di kantor polisi, tolong isikan pulsa 100ribu di nomor baru mama
ya: 087734095160, pulsa mama habis. Cepat ya nak, nanti mama hubungi kamu,
keadaan darurat.” Celetuk Febby polos membacakan isi pesan yang ia dapat. “Ya
ampun mama, bisa-bisanya di kantor polisi..” Ucap Febby panik sembari beranjak
dari duduknya. “Feb, mau kemana?” tanya Felice menahan Febby. “Aku mau isi
pulsa dulu buat mama.” Jawab Febby langsung ngeloyor pergi. Baru beberapa
langkah, dia kembali lagi. “Ehh, bukannya mama Febby lagi di Singapore
sekarang?!” Ucap Febby menyadari. “Dasar otak udang. Mau aja dibegoin sama sms begituan.” Ejek Billy
sekenanya. “Ihh, Billy. Febby kan panik tadi...” sambar Febby tak mau kalah.
“Eh poni, potong dulu tuh poni biar kagak nutupin otak lu mulu..” ejek Billy lagi membuat Febby
semakin manyun bibirnya. “Ren, dari tadi kok diem aja sih?” tanya Felice
melihat Reno yang sedari tadi melamun. “Sepupu gue si Firli depresi. Sekarang
di rumah sakit jiwa.” Jawab Reno meceritakan apa yang terjadi pada adiknya itu.
“Firli yang cantik itu kan? Kok bisa?” tanya Felice lagi. “Gue juga nggak tahu
kenapa. Tapi kata tante gue, Firli jadi aneh banget sekarang. Firli tuh merasa
kalo dia bakal dibunuh sama orang.” Jawab Reno mengutarakan kegelisahan
hatinya. “Gimana kalo kita jengukin Firli sekarang?” ajak Febby setelah
menyeruput kopinya. “Ide bagus tuh.
Gue setuju.” Celetuh Felice menyetujui ajakan Febby. “Gue juga. Tumben nih poni
pinter.” Canda Billy sambil merusak tatanan poni milik Febby, sedangkan Febby
sibuk merapihkan poninya.
Jakarta-Bandung memang perjalanan yang cukup panjang,
tapi untung saja bukan hari libur, jadi akses jalan masih lancar. Reno
memberhentikan mobilnya di sebuah rumah sakit jiwa dimana Firli dirawat. “Lo
yakin ini rumah sakitnya?” tanya Felice memastikan. “Alamatnya sesuai sama yang
dikirim tante gue.” Jawab Reno kemudian mengajak Billy dan Febby yang sedari
tadi ribut masalah poni. Reno menemui tantenya sekaligus melihat keadaan Firli
secara langsung. Firli hanya diam dengan tatapan kosong, tidak heboh seperti
biasanya ketika Reno datang. “Tiap malam Firli selalu mengerang ketakutan,
tante sendiri sampai kecapekan ngejaga Firli. Tante nggak tahu apa penyebabnya.
Sudah dua hari tante tidak pulang ke rumah. Kamu bisa ambilkan baju-baju Firli
tidak?” pinta tante Hilma kepada Reno. “Iya tante. Nanti kalo tante kecapekan,
biar kami yang jaga Firli. Kami permisi dulu.” Jawab Reno kemudian keluar dari
ruangan. Langkah Felice sempat terhenti ketika ia mendengar suara Firli yang
meminta tolong padanya. Ketika ia menoleh ke arah Firli, tapi Firli tetap
dengan tatapan kosong. Felice yakin bahwa Firli sekarang sedang dalam bahaya.
“Gue ngerasa Firli sedang butuh bantuan kita. Dia bukan mengalami masalah seperti
orang biasa..” celetuk Felice ketika semuanya sudah masuk ke dalam mobil dan
siap meluncur ke rumah Firli. “Kamsud L?” tanya Billy tak mengerti. “Maksud
kali, Billy...” celetuk Febby membenarkan kalimat Billy. “Ini ada hubungannya
sama makhluk halus.” Jawab Felice yang yakin dengan firasatnya. “Gue rasa juga
gitu.” Ucap Reno kemudian menacap gas menuju rumah Firli.
Sesampainya disana, mereka berempat langsung menuju ke
kamar Firli. Felice dan Febby mengemasi baju-baju Firli yang nantinya akan
dibawa ke rumah sakit, sedangkan Reno dan Billy mengecek apa yang sudah terjadi
di kamar ini. “Aje gileee... adek lu emang cantik banget ye..”
celetuk Billy begitu menemukan foto Firli yang tergeletak di meja kecil. “Wuuu
dasar playboy cap kaki tiga!” ejek Febby membalas ejekan Billy. “Larutan kali,
poni..” jawab Billy kemudian meletakkan kembali foto tersebut di meja. Tanpa
disengaja, mata Billy terpusat dengan ponsel Firli yang tergeletak disamping
foto yang baru saja Billy letakkan. Iseng, Billy membuka-buka ponsel Firli.
Ketika Billy mulai menyalakan layar, langsung terbuka isi pesan yang terakhir
kali Firli baca. Billy membacanya secara perlahan. “Guys.. guys.. sini deh!”
panggil Billy, membuat Reno, Felice dan Febby mengkerubungi Billy. “Lihat isi
pesan ini.” Ucap Billy sembari memperlihatkan isi pesan tersebut. Bruuakkk!!!
Tiba-tiba pintu kamar Firli tertutup dengan sendirinya membuat mereka tersentak
kaget. Mereka panik kemudian berlari menuju pintu dan berusaha membukanya. Cermin
rias yang tiba-tiba pecah semakin menambah kepanikan mereka. “Billy, pengen
pipis..” celetuk Febby ketakutan. “Ya ellah
poni, disaat genting gini lu kebelet
pipis?!” omel Billy yang akhirnya Febby pun diam. Reno yang selalu standby dengan handycam-nya, mengarahkan
handycam itu menuju cermin. Dari layar handycam terlihat sosok mengerikan yang
membawa serpihan kaca, sontak membuat mereka semakin berteriak ketakutan. Masih
dengan menyorot sosok tersebut, Reno berusaha membuka pintu kamar dan akhirnya
pintu itu terbuka. Mereka berlari secepat kilat keluar dari rumah itu, kemudian
masuk ke dalam mobil dan menancap gas dengan tergesa-gesa. “Jantung Febby mau
copot..” celetuk Febby sembari mengatur nafasnya. “Bener kan, Ren. Ada yang nggak
beres sama Firli.” Ucap Felice yang juga mengatur nafasnya. “Ini ada
hubungannya sama sms itu deh
kayaknya.” Lanjut Felice. “Bill, lo baca lagi isi sms itu.” Pinta Reno disela-sela
ia menyetir. Billy pun membacakan isi pesan tersebut. “Guys, gue yakin kalo setan yang kita lihat tadi itu Ayu. Nama gadis
yang ada di dalam sms itu.” Ucap Reno menyimpulkan, diikuti anggukan sepaham
dari Felice, Billy dan Febby. “Eh poni, lu gak
jadi pipis?” tanya Billy mengingatkan. “Oh iya, Febby jadi lupa. Reno, mampir
ke pom dulu ya, mau numpang toilet..” pinta Febby kepada Reno. “Tuh kan nih
anak apa kagak saking blo’onnya sampek pipis aja lupa dan bisa pending.” Ejek Billy lagi.
Sesampainya di rumah sakit, mereka bergantian menjaga
Firli, sementara tante Hilma pulang sebentar untuk melihat keadaan rumah. Reno
sempat khawatir, karena rumah sedang dalam keadaan tidak baik, tapi tante Hilma
tetap ngotot untuk pulang, alhasil Reno pun memperbolehkan tante-nya untuk
pulang. Reno melihati adiknya itu seperti seorang peneliti yang sedang meneliti
suatu benda. Reno memanggil-manggil nama Firli berulang kali, tapi Firli tetap
diam. Ketika tangan Felice menyentuh tangan Firli, Firli langsung menggenggam
tangan Felice dengan erat. “Kak, tolong aku..” ucap Firli lirih sembari menatap
Felice penuh harap. Felice memandang ke arah Reno, Febby dan Billy. “Apa yang
bisa kakak bantu?” tanya Felice lagi. “Dia mau bunuh aku, Kak. Aku takut..”
jawab Firli yang kini sudah mulai sadar akan dirinya. Felice, Reno, Billy dan
Febby saling berpandangan seolah-olah mereka sepakat untuk membantu Firli.
“Siapa yang mau bunuh kamu?” tanya Reno. “Dia...” jawab Firli menggantung.
Firli sontak berteriak begitu melihat Febby yang mengeluarkan cermin kecil
untuk berkaca. “Jangan! Jangan cermin!!” teriak Firli ketakutan. Seketika Febby
memasukkan cerminnya kembali ke dalam saku roknya. “Kenapa? Ada yang salah sama
cermin?” tanya Febby polos. “Dia datang dari cermin.” Jawab Firli sambil
menitikkan air mata karena takut. “Kita harus ngelakuin sesuatu. Gue ada ide,
tapi telfon tante Hilma dulu buat jagain Firli.” Pinta Felice kepada Reno,
kemudian Reno menelfon mama Firli agar datang ke rumah sakit.
Malam itu, mereka berempat masih berada di sekitar rumah
sakit. “Setan itu datang kalo ada cermin. Sekarang keluarin cermin lo, Feb.”
Pinta Felice, kemudian Febby mengeluarkan cermin dari saku roknya. Mereka
menunggu lama, tapi sosok itu tak kunjung datang. “Kok gak nongol-nongol sih??!”
Rengek Febby yang sudah ngantuk menunggu terlalu lama. Hingga akhirnya,
tiba-tiba tempat itu diselimuti kabut yang tebal. Mereka berjalan menghindari
kabut tersebut. Semakin mereka berjalan, kabut itu semakin hilang. Tapi mereka
bukan berada di dunia nyata lagi. Felice terus menarik pergelangan tangan
Febby, hingga gelang yang dipakai Febby terjatuh. “Dimana nih?” gumam Billy melihat-lihat suasana yang asing. Mereka
ber-empat berada di sebuah komplex mewah milik orang kaya raya. “Ettt dah..
Rumahnya mencorong semua!” ucap Billy terheran dengan rumah-rumah yang
menjulang tinggi di samping kanan dan kiri mereka. “Bil, bukan saatnya ndeso kayak gitu..” omel Felice. Mereka
terus berjalan, langkah demi langkah yang semakin membuat mereka penasaran.
Mereka kemudian melihat di suatu taman beberapa gadis remaja yang sedang
bermain. Tidak. Bukan bermain. Lebih tepatnya menyiksa seorang gadis lain yang
buruk rupanya. “Nama kok nggak sesuai
sama rupanya. Wuuu dasar Ayu jelek!” teriak salah satu dari sekian banyak
gadis. Gadis buruk rupa itu akhirnya keluar dari kerumunan gadis-gadis lain
yang menyiksanya, dan berlari memasuki sebuah rumah. “Dia Ayu. Ayo ikuti dia!”
ajak Reno, kemudian mereka berempat mengikuti Ayu. Ini adalah dunia dimana Ayu
masih hidup, dan mereka berempat seolah-olah tak terlihat. Ayu masuk ke dalam
kamar, kemudian berdiri di depan cermin besarnya. Dia menyilakkan rambutnya dan terlihat wajah
cacat Ayu yang mengerikan. “Kenapa aku lahir dengan wajah seperti ini..” keluh
Ayu menyesali dirinya yang terlahir cacat rupa. Ayu kemudian mengambil silet di
laci mejanya. Perlahan dia menyayat wajahnya sendiri dengan silet itu. Dia
mengerang kesakitan, tetapi tangannya terus saja menggerakan silet untuk
melukai wajahnya. Pertama, dia menyobek bibirnya hingga menembus telinganya.
Lagi-lagi dia mengerang kesakitan, kemudian melanjutkan aksinya itu dengan
mengiris kornea matanya. Wajahnya kini berlumuran dengan darah segar yang
mengucur deras dari bibirnya dan matanya. Aksi yang dilakukan Ayu membuat Reno,
Febby, Felice dan Billy begidik ngeri. Febby memegangi wajahnya, seolah-olah
membayangkan bila hal itu terjadi pada wajahnya. Tidak sampai di situ, Ayu kemudian memecahkan
cerminnya menggunakan kepalanya hingga cermin itu pecah. Dia mengambil serpihan
pecahan cermin itu dan menusukkannya pada perutnya. Dia mencabutnya kemudian
menancapkan serpihan kaca itu ke arah jantungnya. Sungguh, pemandangan yang
mengerikan. Ayu kemudian mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Seketika Ayu
terjatuh dan terkapar tak berdaya. “Dia udah
mati?” tanya Felice bergetar. “Mungkin..” jawab Reno sembari menelan ludah
karena rasa takut yang dirasakan. Tiba-tiba Ayu bangkit dengan sigap membuat
mereka terlonjak ketakutan. “Sekarang, kalian yang akan aku bunuh!” ucap Ayu
sembari mengambil serpihan cermin yang menancap di jantungnya. Mereka berlari
keluar, menghindari Ayu yang kini sedang mengincar mereka. “Reno, kita harus
ngapain?” tanya Felice disela-sela mereka berlari. “Febby udah
nggak kuat.” Keluh Febby yang nafasnya sudah ngos-ngosan. “Kita harus
keluar dari tempat ini.” Jawab Reno panik. “Caranya?” tanya Billy. “Kita harus
cari kabut itu lagi, biar kita bisa balik ke dunia nyata.” Jawab Reno. Mereka terhenti di sebuah taman yang tadi
mereka lewati. Ada banyak jalan yang membuat mereka bingung harus melewati
jalan yang mana. Sementara Ayu sudah semakin dekat. Tawanya yang mengerikan itu
semakin terdengar. “Sial, ini tipuan!” umpat Reno kesal. Seketika mata Febby
melihat suatu benda di salah satu jalan, dan benda yang ia lihat itu adalah
gelangnya yang hilang tadi. “Temen-temen! Itu gelang Febby yang jatuh tadi.
Berarti kita tadi lewat jalan ini.” Celetuk Febby seolah-olah membuat harapan
Felice, Reno dan Billy untuk tetap hidup dan kembali ke dunia nyata. Mereka
melewati jalan itu, dan ternyata benar itu adalah jalan yang tadi mereka
lewati. Sial nasib mereka, ketika mereka sudah berada di dunia nyata, sosok Ayu
rupanya ada disini. Sontak mereka berempat berteriak ketakutan. Apalagi
ditambah suasana malam yang sepi dan mencekam. “Hey hantu! Stop. Aku punya make up lengkap, mulai dari pelembab,
alas bedak, eyes shadow, eyeliner, bulu mata palsu, lipstik
warna-warni, jepitan rambut sampek rol buat merapihkan poni, Febby punya. Jadi
hantu, kamu nggak usah merasa minder
dengan wajah jelek karena Febby bisa merubah kamu jadi cinderella. Ayo sini, nggak usah malu-malu.” Ucap Febby dengan
lidah cedalnya. “Ya elah poni...
setan lu ajak ngobrol. Kagak sekalian
aja lu bawa ke salon?!” omel Billy melihat tingkah laku sahabatnya yang blo’on itu. Sosok Ayu menggaruk-garuk
kepala karena bingung berhadapan dengan Febby. “Hantu, sini! Mau cantik nggak sih kayak Febby?” tanya Febby
diikuti raut muka heran dari Reno, Felice dan Billy. “Felice, tolong ambilin tas make up Febby ya di mobil. Cepet..”
suruh Febby. “I..iya.” jawab Felice
kemudian pergi mengambil tas make up milik
Febby dan membawanya kembali. Dengan secepat kilat, Febby mengajak sosok Ayu ke
toilet diikuti Reno, Billy dan Felice untuk menjaga sahabatnya yang blo’on itu. Febby mulai mengkramasi rambut Ayu yang sudah menggimbal.
Di dalam rambut Ayu, Febby menemukan cacing, kecoa dan tikus. “Ya ampun.. ini
kepala apa kebun binatang.” Ucap Febby begidik. Setelah itu Febby mulai merias
wajah Ayu dengan cepat. Ketika Febby mengeluarkan kacanya dan menunjukkannya
kepada Ayu, Ayu mulai tersenyum puas dan perlahan sosok Ayu memudar kemudian
menghilang seperti kabut. “Aje gile...”
ucap Billy terheran-heran. Bukan hanya Billy, tapi Reno dan Felice pun ikut
heran sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka masing-masing.
Pagi itu, Firli sudah kembali ke rumah diantar Reno, Febby, Felice dan Billy. Semuanya
tertawa mendengar ocehan Febby yang menceritakan aksinya ketika mendandani
hantu. “Eh poni, mending lu buka
salon khusus buat setan deh.. hahah” canda Billy, disertai gelak tawa dari
semuanya. Akhirnya Firli mulai hidup secara normal, dan dia menjadi percaya
dengan sms-sms seperti itu. Walaupun sms yang dia dapat memang omong kosong,
tapi apa salahnya untuk cari aman, toh ada gratisan dan pulsa tidak berkurang
kan?!
“Misi kita
sukses!” teriak mereka berempat ketika pulang dari Bandung menuju Jakarta.
Tiba-tiba soundtrack doraemon milik Febby berbunyi. Febby membaca isi sms itu,
“Terimakasih atas make overnya, nanti aku langganan ya!
Huaaaaaaa....” mereka berempat sontak berteriak begitu mereka tahu bahwa sms
itu adalah sms dari Ayu. “Hantu gaul punya hape...”
ucap Billy disela-sela mereka berteriak di dalam mobil.
THE END
izin baca dulu yak, dari atas sampe bawah :D
BalasHapus