Sabtu, 31 Januari 2015

NO HOAX



Aku paling benci dengan sms yang mengharuskan penerima meng-forward sms itu ke beberapa kontak. Apa lagi diikuti dengan embel-embel horror didalamnya. Pagi itu aku mendapatkan sms entah dari siapa, nomornya tak terdaftar di kontakku.
From: 087734095xxx
05.20 a.m
Namaku Ayu. Aku adalah gadis buruk rupa dan tidak ada seorangpun yang mau berteman denganku. Aku sudah mati dengan luka penuh sayatan dan kali ini aku sedang mecari teman untuk menemaniku bermain. Kirim sms ini ke 30 temanmu dalam waktu 5 menit, jika tidak kamu yang akan menemaniku. No Hoax.
            Aku tersenyum geli membaca pesan ini. Menurutku orang yang percaya dengan sms ini adalah orang yang tidak bisa berfikir secara logis, tidak mau menggunakan otaknya untuk berfikir rasional. Aku tidak menggubris isi sms itu apalagi meng-forwardnya. Aku meletakkan ponselku di meja begitu saja begitu Mama memanggilku. “Firli, bangun!” teriak Mama dari balik pintu kamarku. “Iya mah, udah bangun!” sahutku ikut berteriak.  Aku segera bangkit dari gulungan selimut yang hangat itu, kemudian berjalan perlahan menuju kamar mandi. Kebetulan kamar mandiku berada di dalam kamar. Jarak dari tempat tidur ke kamar mandi harus melewati cermin rias besar. Terlihat dicermin seperti ada bayangan putih ketika aku melintas. Aku mencoba mengucek-ngucek mataku yang belum jelas karena baru saja bangun tidur. Mungkin bayanganku sendiri kali ya? Entahlah, aku berusaha membuang fikiran negatif, dan lebih baik aku mandi sekarang!
            Setelah selesai mandi, entah kenapa suasana kamarku menjadi begitu mencekam. Kamarku memang gelap, tapi tidak segelap yang aku rasakan sekarang. Aku juga merasa ada yang aneh dengan kamarku, membuat jantungku berdegup sangat cepat. Ketika aku memakai baju seragamku, seperti ada sepasang mata yang seolah-olah mengawasiku. Ketika aku duduk di depan cermin, aku melihat bayangan itu di cermin. Bayangan seorang wanita di sudut ruang kamarku. Ketika aku menoleh ke belakang, bayangan itu menghilang. Nafasku semakin memburu karena ketakutan. Aku ingin segera keluar dari kamarku, tapi tubuh ini seolah-olah lumpuh. Aku membalikkan tubuhku ke depan cermin, dan bayangan itu ada lagi. Ketika aku membalikkan tubuhku, wajah wanita yang mengerikan tepat berada dihadapan wajahku, membuatku terlonjak kaget dan terjatuh. Wanita dengan baju putihnya yng penuh bercak darah, matanya yang putih tanpa pupil menatap tajam ke arahku, membuatku semakin tak kuasa menahan getaran di tubuhku. “Siapa kamu?” tanyaku ketakutan. Wanita itu semakin mendekatiku, aku berjalan mundur hingga menyentuh tembok. Seketika itu cermin rias tiba-tiba pecah. Wanita itu mengambil serpihan kaca dan tangannya siap ia ayunkan untuk menusukku. “Arrrgggghhhhhhh!!!!!” aku berteriak ketakutan. Tiba-tiba pintu kamarku dibuka, Mama langsung memelukku. “Sayang kenapa?” tanya Mama tapi aku tak memperdulikannya. Sosok itu masih disana! Masih mengincarku! Dia akan membunuhku!
***
            Sore itu Reno, Felice, Billy dan Feby sedang menikmati kopi di sebuah cafe, tempat favorit dimana mereka berkumpul. Soundtrack doraemon berbunyi disela-sela perbincangan mereka. “Ehh ada sms.. Bentar, Febby baca dulu. Sayang, ini mama. Mama ada di kantor polisi, tolong isikan pulsa 100ribu di nomor baru mama ya: 087734095160, pulsa mama habis. Cepat ya nak, nanti mama hubungi kamu, keadaan darurat.” Celetuk Febby polos membacakan isi pesan yang ia dapat. “Ya ampun mama, bisa-bisanya di kantor polisi..” Ucap Febby panik sembari beranjak dari duduknya. “Feb, mau kemana?” tanya Felice menahan Febby. “Aku mau isi pulsa dulu buat mama.” Jawab Febby langsung ngeloyor pergi. Baru beberapa langkah, dia kembali lagi. “Ehh, bukannya mama Febby lagi di Singapore sekarang?!” Ucap Febby menyadari. “Dasar otak udang. Mau aja dibegoin sama sms begituan.” Ejek Billy sekenanya. “Ihh, Billy. Febby kan panik tadi...” sambar Febby tak mau kalah. “Eh poni, potong dulu tuh poni biar kagak nutupin otak lu mulu..” ejek Billy lagi membuat Febby semakin manyun bibirnya. “Ren, dari tadi kok diem aja sih?” tanya Felice melihat Reno yang sedari tadi melamun. “Sepupu gue si Firli depresi. Sekarang di rumah sakit jiwa.” Jawab Reno meceritakan apa yang terjadi pada adiknya itu. “Firli yang cantik itu kan? Kok bisa?” tanya Felice lagi. “Gue juga nggak tahu kenapa. Tapi kata tante gue, Firli jadi aneh banget sekarang. Firli tuh merasa kalo dia bakal dibunuh sama orang.” Jawab Reno mengutarakan kegelisahan hatinya. “Gimana kalo kita jengukin Firli sekarang?” ajak Febby setelah menyeruput kopinya. “Ide bagus tuh. Gue setuju.” Celetuh Felice menyetujui ajakan Febby. “Gue juga. Tumben nih poni pinter.” Canda Billy sambil merusak tatanan poni milik Febby, sedangkan Febby sibuk merapihkan poninya.
            Jakarta-Bandung memang perjalanan yang cukup panjang, tapi untung saja bukan hari libur, jadi akses jalan masih lancar. Reno memberhentikan mobilnya di sebuah rumah sakit jiwa dimana Firli dirawat. “Lo yakin ini rumah sakitnya?” tanya Felice memastikan. “Alamatnya sesuai sama yang dikirim tante gue.” Jawab Reno kemudian mengajak Billy dan Febby yang sedari tadi ribut masalah poni. Reno menemui tantenya sekaligus melihat keadaan Firli secara langsung. Firli hanya diam dengan tatapan kosong, tidak heboh seperti biasanya ketika Reno datang. “Tiap malam Firli selalu mengerang ketakutan, tante sendiri sampai kecapekan ngejaga Firli. Tante nggak tahu apa penyebabnya. Sudah dua hari tante tidak pulang ke rumah. Kamu bisa ambilkan baju-baju Firli tidak?” pinta tante Hilma kepada Reno. “Iya tante. Nanti kalo tante kecapekan, biar kami yang jaga Firli. Kami permisi dulu.” Jawab Reno kemudian keluar dari ruangan. Langkah Felice sempat terhenti ketika ia mendengar suara Firli yang meminta tolong padanya. Ketika ia menoleh ke arah Firli, tapi Firli tetap dengan tatapan kosong. Felice yakin bahwa Firli sekarang sedang dalam bahaya. “Gue ngerasa Firli sedang butuh bantuan kita. Dia bukan mengalami masalah seperti orang biasa..” celetuk Felice ketika semuanya sudah masuk ke dalam mobil dan siap meluncur ke rumah Firli. “Kamsud L?” tanya Billy tak mengerti. “Maksud kali, Billy...” celetuk Febby membenarkan kalimat Billy. “Ini ada hubungannya sama makhluk halus.” Jawab Felice yang yakin dengan firasatnya. “Gue rasa juga gitu.” Ucap Reno kemudian menacap gas menuju rumah Firli.
            Sesampainya disana, mereka berempat langsung menuju ke kamar Firli. Felice dan Febby mengemasi baju-baju Firli yang nantinya akan dibawa ke rumah sakit, sedangkan Reno dan Billy mengecek apa yang sudah terjadi di kamar ini. “Aje gileee... adek lu emang cantik banget ye..” celetuk Billy begitu menemukan foto Firli yang tergeletak di meja kecil. “Wuuu dasar playboy cap kaki tiga!” ejek Febby membalas ejekan Billy. “Larutan kali, poni..” jawab Billy kemudian meletakkan kembali foto tersebut di meja. Tanpa disengaja, mata Billy terpusat dengan ponsel Firli yang tergeletak disamping foto yang baru saja Billy letakkan. Iseng, Billy membuka-buka ponsel Firli. Ketika Billy mulai menyalakan layar, langsung terbuka isi pesan yang terakhir kali Firli baca. Billy membacanya secara perlahan. “Guys.. guys.. sini deh!” panggil Billy, membuat Reno, Felice dan Febby mengkerubungi Billy. “Lihat isi pesan ini.” Ucap Billy sembari memperlihatkan isi pesan tersebut. Bruuakkk!!! Tiba-tiba pintu kamar Firli tertutup dengan sendirinya membuat mereka tersentak kaget. Mereka panik kemudian berlari menuju pintu dan berusaha membukanya. Cermin rias yang tiba-tiba pecah semakin menambah kepanikan mereka. “Billy, pengen pipis..” celetuk Febby ketakutan. “Ya ellah poni, disaat genting gini lu kebelet pipis?!” omel Billy yang akhirnya Febby pun diam. Reno yang selalu standby dengan handycam-nya, mengarahkan handycam itu menuju cermin. Dari layar handycam terlihat sosok mengerikan yang membawa serpihan kaca, sontak membuat mereka semakin berteriak ketakutan. Masih dengan menyorot sosok tersebut, Reno berusaha membuka pintu kamar dan akhirnya pintu itu terbuka. Mereka berlari secepat kilat keluar dari rumah itu, kemudian masuk ke dalam mobil dan menancap gas dengan tergesa-gesa. “Jantung Febby mau copot..” celetuk Febby sembari mengatur nafasnya. “Bener kan, Ren. Ada yang nggak beres sama Firli.” Ucap Felice yang juga mengatur nafasnya. “Ini ada hubungannya sama sms itu deh kayaknya.” Lanjut Felice. “Bill, lo baca lagi isi sms itu.” Pinta Reno disela-sela ia menyetir. Billy pun membacakan isi pesan tersebut. “Guys, gue yakin kalo setan yang kita lihat tadi itu Ayu. Nama gadis yang ada di dalam sms itu.” Ucap Reno menyimpulkan, diikuti anggukan sepaham dari Felice, Billy dan Febby. “Eh poni, lu gak jadi pipis?” tanya Billy mengingatkan. “Oh iya, Febby jadi lupa. Reno, mampir ke pom dulu ya, mau numpang toilet..” pinta Febby kepada Reno. “Tuh kan nih anak apa kagak saking blo’onnya sampek pipis aja lupa dan bisa pending.” Ejek Billy lagi.
            Sesampainya di rumah sakit, mereka bergantian menjaga Firli, sementara tante Hilma pulang sebentar untuk melihat keadaan rumah. Reno sempat khawatir, karena rumah sedang dalam keadaan tidak baik, tapi tante Hilma tetap ngotot untuk pulang, alhasil Reno pun memperbolehkan tante-nya untuk pulang. Reno melihati adiknya itu seperti seorang peneliti yang sedang meneliti suatu benda. Reno memanggil-manggil nama Firli berulang kali, tapi Firli tetap diam. Ketika tangan Felice menyentuh tangan Firli, Firli langsung menggenggam tangan Felice dengan erat. “Kak, tolong aku..” ucap Firli lirih sembari menatap Felice penuh harap. Felice memandang ke arah Reno, Febby dan Billy. “Apa yang bisa kakak bantu?” tanya Felice lagi. “Dia mau bunuh aku, Kak. Aku takut..” jawab Firli yang kini sudah mulai sadar akan dirinya. Felice, Reno, Billy dan Febby saling berpandangan seolah-olah mereka sepakat untuk membantu Firli. “Siapa yang mau bunuh kamu?” tanya Reno. “Dia...” jawab Firli menggantung. Firli sontak berteriak begitu melihat Febby yang mengeluarkan cermin kecil untuk berkaca. “Jangan! Jangan cermin!!” teriak Firli ketakutan. Seketika Febby memasukkan cerminnya kembali ke dalam saku roknya. “Kenapa? Ada yang salah sama cermin?” tanya Febby polos. “Dia datang dari cermin.” Jawab Firli sambil menitikkan air mata karena takut. “Kita harus ngelakuin sesuatu. Gue ada ide, tapi telfon tante Hilma dulu buat jagain Firli.” Pinta Felice kepada Reno, kemudian Reno menelfon mama Firli agar datang ke rumah sakit.
            Malam itu, mereka berempat masih berada di sekitar rumah sakit. “Setan itu datang kalo ada cermin. Sekarang keluarin cermin lo, Feb.” Pinta Felice, kemudian Febby mengeluarkan cermin dari saku roknya. Mereka menunggu lama, tapi sosok itu tak kunjung datang. “Kok gak nongol-nongol  sih??!” Rengek Febby yang sudah ngantuk menunggu terlalu lama. Hingga akhirnya, tiba-tiba tempat itu diselimuti kabut yang tebal. Mereka berjalan menghindari kabut tersebut. Semakin mereka berjalan, kabut itu semakin hilang. Tapi mereka bukan berada di dunia nyata lagi. Felice terus menarik pergelangan tangan Febby, hingga gelang yang dipakai Febby terjatuh. “Dimana nih?” gumam Billy melihat-lihat suasana yang asing. Mereka ber-empat berada di sebuah komplex mewah milik orang kaya raya. “Ettt dah.. Rumahnya mencorong semua!” ucap Billy terheran dengan rumah-rumah yang menjulang tinggi di samping kanan dan kiri mereka. “Bil, bukan saatnya ndeso kayak gitu..” omel Felice. Mereka terus berjalan, langkah demi langkah yang semakin membuat mereka penasaran. Mereka kemudian melihat di suatu taman beberapa gadis remaja yang sedang bermain. Tidak. Bukan bermain. Lebih tepatnya menyiksa seorang gadis lain yang buruk rupanya. “Nama kok nggak sesuai sama rupanya. Wuuu dasar Ayu jelek!” teriak salah satu dari sekian banyak gadis. Gadis buruk rupa itu akhirnya keluar dari kerumunan gadis-gadis lain yang menyiksanya, dan berlari memasuki sebuah rumah. “Dia Ayu. Ayo ikuti dia!” ajak Reno, kemudian mereka berempat mengikuti Ayu. Ini adalah dunia dimana Ayu masih hidup, dan mereka berempat seolah-olah tak terlihat. Ayu masuk ke dalam kamar, kemudian berdiri di depan cermin besarnya.  Dia menyilakkan rambutnya dan terlihat wajah cacat Ayu yang mengerikan. “Kenapa aku lahir dengan wajah seperti ini..” keluh Ayu menyesali dirinya yang terlahir cacat rupa. Ayu kemudian mengambil silet di laci mejanya. Perlahan dia menyayat wajahnya sendiri dengan silet itu. Dia mengerang kesakitan, tetapi tangannya terus saja menggerakan silet untuk melukai wajahnya. Pertama, dia menyobek bibirnya hingga menembus telinganya. Lagi-lagi dia mengerang kesakitan, kemudian melanjutkan aksinya itu dengan mengiris kornea matanya. Wajahnya kini berlumuran dengan darah segar yang mengucur deras dari bibirnya dan matanya. Aksi yang dilakukan Ayu membuat Reno, Febby, Felice dan Billy begidik ngeri. Febby memegangi wajahnya, seolah-olah membayangkan bila hal itu terjadi pada wajahnya.  Tidak sampai di situ, Ayu kemudian memecahkan cerminnya menggunakan kepalanya hingga cermin itu pecah. Dia mengambil serpihan pecahan cermin itu dan menusukkannya pada perutnya. Dia mencabutnya kemudian menancapkan serpihan kaca itu ke arah jantungnya. Sungguh, pemandangan yang mengerikan. Ayu kemudian mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Seketika Ayu terjatuh dan terkapar tak berdaya. “Dia udah mati?” tanya Felice bergetar. “Mungkin..” jawab Reno sembari menelan ludah karena rasa takut yang dirasakan. Tiba-tiba Ayu bangkit dengan sigap membuat mereka terlonjak ketakutan. “Sekarang, kalian yang akan aku bunuh!” ucap Ayu sembari mengambil serpihan cermin yang menancap di jantungnya. Mereka berlari keluar, menghindari Ayu yang kini sedang mengincar mereka. “Reno, kita harus ngapain?” tanya Felice disela-sela mereka berlari.  “Febby udah nggak kuat.” Keluh Febby yang nafasnya sudah ngos-ngosan. “Kita harus keluar dari tempat ini.” Jawab Reno panik. “Caranya?” tanya Billy. “Kita harus cari kabut itu lagi, biar kita bisa balik ke dunia nyata.” Jawab Reno.  Mereka terhenti di sebuah taman yang tadi mereka lewati. Ada banyak jalan yang membuat mereka bingung harus melewati jalan yang mana. Sementara Ayu sudah semakin dekat. Tawanya yang mengerikan itu semakin terdengar. “Sial, ini tipuan!” umpat Reno kesal. Seketika mata Febby melihat suatu benda di salah satu jalan, dan benda yang ia lihat itu adalah gelangnya yang hilang tadi. “Temen-temen! Itu gelang Febby yang jatuh tadi. Berarti kita tadi lewat jalan ini.” Celetuk Febby seolah-olah membuat harapan Felice, Reno dan Billy untuk tetap hidup dan kembali ke dunia nyata. Mereka melewati jalan itu, dan ternyata benar itu adalah jalan yang tadi mereka lewati. Sial nasib mereka, ketika mereka sudah berada di dunia nyata, sosok Ayu rupanya ada disini. Sontak mereka berempat berteriak ketakutan. Apalagi ditambah suasana malam yang sepi dan mencekam. “Hey hantu! Stop. Aku punya make up lengkap, mulai dari pelembab, alas bedak, eyes shadow, eyeliner, bulu mata palsu, lipstik warna-warni, jepitan rambut sampek rol buat merapihkan poni, Febby punya. Jadi hantu, kamu nggak usah merasa minder dengan wajah jelek karena Febby bisa merubah kamu jadi cinderella. Ayo sini, nggak usah malu-malu.” Ucap Febby dengan lidah cedalnya. “Ya elah poni... setan lu ajak ngobrol. Kagak sekalian aja lu bawa ke salon?!” omel Billy melihat tingkah laku sahabatnya yang blo’on itu. Sosok Ayu menggaruk-garuk kepala karena bingung berhadapan dengan Febby. “Hantu, sini! Mau cantik nggak sih kayak Febby?” tanya Febby diikuti raut muka heran dari Reno, Felice dan Billy. “Felice, tolong ambilin tas make up Febby ya di mobil. Cepet..” suruh Febby.  “I..iya.” jawab Felice kemudian pergi mengambil tas make up milik Febby dan membawanya kembali. Dengan secepat kilat, Febby mengajak sosok Ayu ke toilet diikuti Reno, Billy dan Felice untuk menjaga sahabatnya yang blo’on itu. Febby mulai  mengkramasi rambut Ayu yang sudah menggimbal. Di dalam rambut Ayu, Febby menemukan cacing, kecoa dan tikus. “Ya ampun.. ini kepala apa kebun binatang.” Ucap Febby begidik. Setelah itu Febby mulai merias wajah Ayu dengan cepat. Ketika Febby mengeluarkan kacanya dan menunjukkannya kepada Ayu, Ayu mulai tersenyum puas dan perlahan sosok Ayu memudar kemudian menghilang seperti kabut. “Aje gile...” ucap Billy terheran-heran. Bukan hanya Billy, tapi Reno dan Felice pun ikut heran sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka masing-masing.
            Pagi itu, Firli sudah kembali ke rumah diantar  Reno, Febby, Felice dan Billy. Semuanya tertawa mendengar ocehan Febby yang menceritakan aksinya ketika mendandani hantu. “Eh poni, mending lu buka salon khusus buat setan deh.. hahah” canda Billy, disertai gelak tawa dari semuanya. Akhirnya Firli mulai hidup secara normal, dan dia menjadi percaya dengan sms-sms seperti itu. Walaupun sms yang dia dapat memang omong kosong, tapi apa salahnya untuk cari aman, toh ada gratisan dan pulsa tidak berkurang kan?!
“Misi kita sukses!” teriak mereka berempat ketika pulang dari Bandung menuju Jakarta. Tiba-tiba soundtrack doraemon milik Febby berbunyi. Febby membaca isi sms itu, “Terimakasih atas make overnya, nanti aku langganan ya! Huaaaaaaa....” mereka berempat sontak berteriak begitu mereka tahu bahwa sms itu adalah sms dari Ayu. “Hantu gaul punya hape...” ucap Billy disela-sela mereka berteriak di dalam mobil.

THE END

1 komentar: